KONFLIK AMBON
A.
Pihak Terkait dalam Konflik Ambon
Di wayame salah
satu daerah di Ambon, inilah satu-satunya desa di Ambon yang luput dari
konflik. Warga desa kecil yang dihuni beragam etnik dan agama ini hidup rukun
dan damai. Desa ibarat oase di tengah gurun konflik; sebuah pertanda masi
adanya harapan untuk menghentikan konflik dan hidup berdampingan secara damia
di Maluku.
Di luar wayame
warga saling membakar dan membunuh. Dalam sebuah pertemuan di rumah jabatan
Gebernur Maluku di bilangan Mangga Dua Ambon, Januari 2002, ia mencoba
meyakinkan tokoh-tokoh Islam dan Kristen untuk segera berdamai. [1]
Konflik Ambon
pecah karena kedua kelompok terpolarisasi secara frontal, dimana masing-masing
kemudian mengekploitasi identitas keagamaannya. Masing-masing mengklaim
pihaknya sebagai pihak yang paling benar dan mempersalahkan pihak lain yang
dianggap memulai kerusuhan. Kelompok “Merah” (Kristen) menuduh kelompok islam
sebagai fanatik yang hendak melakukan Islamisasi di Maluku. Sebaliknya,
kelompok “Putih” (Islam) mengeksploitasi isu kristenisasi sebagai justifikasi
untuk memerangi kelompok kristen.[2]
B.
Isu Konflik Ambon
Konflik Ambon jelas
bermuatan agama dan suku. Semenjak bulan Ramadhan, Ambon telah mulai diganggu
oleh potensi letupan-letupan keresuhan. Dalam bentuk ledakan besar, keresuhan
meletup pertama pada Idul Fitri Berdarah, 19 Januari 1999. Semenjak itu, Ambon
menjadi kota yang dikoyak-koyak rusuh demi rusuh. Kerusuhan bahkan meluas ke
beberapa wilayah lain di provinsi Maluku seperti Pulau Seram (3/2/99), Pulau
Haruku (18/2/99), dan Saparua (22/2/99).[3]
Berbeda dengan kasus Bayuwangi,
kasus Ambon tampaknya akan melibatkan faktor lain yang juga menguras energi
prihatin dan membetot perhatian. Rusuh demi rusuh di Ambon saat ini makin
berkembang secara tegas ke arah konflik antaragama. Kita sangat sulit memahami
kasus Ambon sekarang ini hanya dengan mehitung variabel politik atau sosial
yang umumnya ada di belakang kerusuhan di indonesia. Dalam kasus Ambon, diakaui
atau tidak, faktor agama makin menguat sebagai faktor utama, tak sekedar
sekunder atau pelapis permukaan.
Agama adalah sentimen primordial
yang paling kuat di indonesia. Fakta tentang ini tak hanya ada di Ambon
melainkan juga di seluruh pelosok indonesia lainnya hampir tanpa kecuali.
Karena itu, ketika agama telah dijadikan sebagai variabel primer, maka konflik
Ambon bisa menjadi konflik yang meluas dengan cepat.
Faktor agama bisa
menjadi “ketampakan konflik” (yakni postur konflik di mata publik) menjadi
jelas dan konkret bagi semua orang—khususnya umat yang seagama dengan
orang-orang yang terlibat konflik secara langsung di Ambon. Faktor agam bisa
menjadikan “intensitas konflik” (yakni perasaan publik di luar masyarakat yang
berkonflik) dengan cepat meninggi. Faktor agama akhirnya membuat “luas konflik”
(yakni cakupan wilayah konflik) dengan segera segera membesar tampa terkendali.
C.
Isu Laten Konflik Ambon
Dalam rivalitas dua kelompok ini di duga terlibat para pemain di
Jakarta, terutama keluarga Cendana dan beberapa elite TNI. Para raksasa bisnis
di sekitar man tan Presiden Soeharto seperti diketahui, memiliki puluhan
perusahaan yang beroperasi di Maluku. Mereka diindikasikan memiliki kedekatan
dengan faksi-faksi yang bertingkai di Ambon. Keterlibatan mereka dalam konflik
mendapat justifikasi dengan kenyataan bahwa mereka secara tidak langsung
diuntungkan dengan adanya kerusuhan tersebut. Dengan adanya berbagai gejolak
keamana, para kroni-kroni penguasa tersebut semakin dijauhkan dari usaha-usaha
menyeret mereka ke pengadilan guna mepertanggungjawabkan kejahatan politik dan
ekonomi mereka.
Konflik komunal di Maluku juga memunculkan dugaan adanya adanya
keterlibatan para elite kekuasaan yang secara sengaja merancang kerusuhan. Hal
ini dikatakan Kapolri Jenderal Roesmanhadi yang menyebutkan bahwa ada permainan
elite politik di balik kerusahan Ambon pda 19 Januari. Namun demikian, POLRI
mengaku mengalami kesulitan untuk melacak hal ini. Kaster TNI waktu itu Susilo
Bambang Yudhoyono juga mengungkapkan dugaannya bahwa ada jaringan tingkat
nasional yang bmengacaukan keadaan selain masalah lokal. Nama-nama seperti
Yorris Raweyai (Ketua Pemuda Pancasila) serta Mayjen Kivlan Zein (Kostrad)
sempat mengisi rumor ini di beberapa media massa. Namun, tidak ada penyelidikan
dan pembuktiann yang memadai terhadap teori ini[4]
Sampai dengan
hari ini, 45 hari setelah Idul Fitri Berdarah, kota Ambon masi terus bergolak.
Daftar statistik tentang jumlah rusuh, bentrokan, Daftar statistik tentang
jumlah rusuh, bentrokan, kerusakan bangunan, puing-puing, rumah-rumah ibadah yang
dibakar, korban luka, dan korban jiwa, terus bertambah panjang. Di balik itu,
ada satu jenis korban yang tingkat kegawatannya tidak banyak tergantung pada
angka statistik tadi: korban kemanusiaan.
Korban kemanusiaan
adalah jenis korban yang cukup dideteksi melalui gejala fisik: nyawa, tubuh,
bangunan, atau sejenisnya. Korban kemanusiaan adalah sayatan luka yang tertanam
di hati, perasaan, dan mental. Inilah jenis korban terbesar yang terus
berguguran setiap kerusuhan.
Selama ini,
masing-masing pihak mempertahankan egoismenya atau kepentingan kelompoknya.
Tokoh-tokoh berbicara saling berbalas pantun tampa perasaan berdosa. Mereka
semua hendaklah mulai menyatukan langkah dengan saling berpegangan tangan di
bawah satu alasan: penyelamatan kemanusiaan. Di sini, primordialisme justru
mestin ditinggalkan.
tampa upaya itu, soal Ambon akan makin berlarut-larut. Dan jika ini yeng terjadi, betapa berdosa kita semua. Kita tidak bisa membiarkan setiap hari luka-luka bersejarah, trauma, dan dendam ditumbuh-suburkan di ambon dan dimanapu di bumi ini.
tampa upaya itu, soal Ambon akan makin berlarut-larut. Dan jika ini yeng terjadi, betapa berdosa kita semua. Kita tidak bisa membiarkan setiap hari luka-luka bersejarah, trauma, dan dendam ditumbuh-suburkan di ambon dan dimanapu di bumi ini.
D.
Resolusi Konflik Ambon
Dendam memang masih membara, dan luka masih menganga. Menurut kami
sebagai penulis memang kerusuhan sosial berskala massif sangat sulit
untuk di cari resolusinya, yang bersifat tuntas sampai di tingkat masyarakat
bawah, dalam jangka waktu pendek. Apalagi jika penyelesaian dilakukan melalui
pendekatan yang bersifat elitis. Masyarakat yang masih mengalami reproduksi
sosial dan berevolusi menjadi pemicu konflik baru, dan siklus tersebut berulang
terus. Satu-satunya langkah adalah mencari resolusi konflik yang berasal dari
bawah (bottom-up) dengan memotong siklus kekerasan tadi.
Konflik tersebut bisa bertahan lama sepanjang pihak-pihak yang
bertikai tindak menyesali peristiwa tersebut. Konflik tersebut juga akan tetap
berlangsung selama konspirasi antar elite dan konflik eksternal antar elite
tidak dihentikan. Konflik juga tidak akan berhenti jika pemerintah pusat dan
pemerintah daerah tidak tegas dan serius mengatasinya.
Kondisi yang penuh ketegangan ini akan tetap menimbulkn kecurigaan
dan dendam luar biasa di antara kedua pemeluk agama di maluku. Dendam ini akan
menjadi luka batin yang sulit disembuhkan, jika kedua belah pihak tidak memulai
sebuah pertobatan. Pertobatan itu tidak saja sebagai sebuah penyesalan, tetapi
yang lebih hakiki adalah kesediaan untuk sama-sama mengakui salah dan serentak
dengan itu melakukan perubahan perilaku etis, moral, spiritual (keagamaan)
untuk saling memaafkan dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik
bagi generasi mendatang.
Perhatian
mestinya ditujukan langsung ke upaya menghindari jatuhnya korban kemanusiaan
yang makin banyak, menghentikan makin seriusnya kerusakan tatanan sosial, serta
menghentikan laju perluasan konflik. Dalam konteks ini, ada satu soal besar
yang hingga hari-hari ini masi kita lupakan: mengintegrasiakn semua pihak yang
terlibat dalam upaya pemecahan masalah Ambon ke dalam sebuah “jaringa
kemanusiaan”. Untuk mempercepat penyelesaian, pemerintah yang berwenang di
negeri kita haruslah langsung turun ke masyarakat dan melakukan berbagai
pendekatan, diantaranya pendekatan keagamaan, kultural, adat, dan persaudaraan.
[1] Tomi Lebang. Berbekal Seribu Akal Pemerintah dengan Logika: Sari
Pati Pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hlm. 56
[2] Syamsul Hadi dkk. (2007). Disintegrasi pasca Orde Baru : Negara,
konflik lokal, dan dinamika internasional. Jakarta : Yayasan Obor indonesia.
Hlm. 172-173
[3] Eap Saefulloh Fatah. Mencintai Indonesia dengan Amal: Refleksi Atas
Fase Awal Demokrasi. Republika Is Plsaza It. 9. Jakarta Hlm. 80-81
[4] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto dkk. Disintegarasi Pasca Orde Baru:
Negara, Konflik Lokal dan Dinamika Internasioal. Jakarta: Yasasan Obor
Indonesian. 2007.Hlm. 172-173
Tidak ada komentar:
Posting Komentar